https://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/issue/feedJurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine2025-12-31T16:41:27+00:00Bayu Anggileo Pramesona, S.Kep, Ns, MMR, PhD, FISQua.bayu.pramesona@fk.unila.ac.idOpen Journal Systems<p align="justify"><strong>Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine </strong>is a peer-reviewed scientific journal published by the Faculty of Medicine, University of Lampung. This journal serves as a platform for disseminating research findings and scholarly discussions in the fields of medicine, public health, environmental health, and their intersections with agriculture and agromedicine. The journal emphasizes preventive, promotive, and educational health strategies, especially within rural and agrarian communities. <strong>Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine</strong><strong> </strong>welcomes original articles, reviews, and community-based research in areas including but not limited to: Epidemiology and public health, Tropical infectious diseases, Community nutrition and food security, Environmental and occupational health, Community-based health interventions, Agromedicine and the health-agriculture interface.</p>https://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3672Peran Emulgel Berbasis Ekstrak Tanaman Herbal dalam Terapi Topikal2025-12-20T11:09:37+00:00Latansa Amani Rayalatansary@gmail.comSyazili Mustofasyazili.mustofa@fk.unila.ac.idGiska Tri Putrigiskaputri73@gmail.comHendri Busmanhendri.busman@fmipa.unila.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran emulgel berbasis ekstrak tanaman herbal dalam terapi topikal melalui pendekatan kajian literatur sistematis menggunakan metode PRISMA. Sebanyak 81 artikel diidentifikasi dari basis data Scopus dengan kata kunci “Emulgel” AND “Topical” AND (“Herbal” OR “Plant”), dan 14 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi tahun 2020–2025 dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa emulgel merupakan sistem penghantaran obat yang inovatif karena mampu menggabungkan keunggulan emulsi dan gel, menghasilkan stabilitas fisik yang baik, daya sebar optimal, serta peningkatan penetrasi zat aktif ke kulit. Berbagai formulasi herbal menunjukkan aktivitas terapeutik yang signifikan, seperti antiinflamasi, antipsoriatik, antimikroba, penyembuhan luka, dan regenerasi kulit. Integrasi beberapa ekstrak dan minyak herbal juga memberikan efek sinergistik yang meningkatkan efektivitas biologis serta stabilitas fitokonstituen. Berdasarkan temuan empiris, emulgel berbasis tanaman herbal memiliki prospek besar sebagai dasar pengembangan fitofarmaka topikal yang aman, efektif, dan sesuai dengan tren pengobatan alami berbasis bukti ilmiah. Namun, diperlukan penelitian lanjutan berskala klinis untuk memastikan keamanan dan efektivitas jangka panjang dari formulasi ini.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> emulgel, tanaman herbal, terapi topikal</p>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3678Faktor Demografi yang Berhubungan dengan Burnout pada Tenaga Keperawatan: Sebuah Tinjauan Literatur2025-12-20T11:12:01+00:00Sinta Nurmalasarisntanrml02@gmail.comBayu Anggileo Pramesonabayu.pramesona@fk.unila.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Burnout merupakan sindrom psikologis yang timbul akibat stres kerja kronis yang tidak tertangani secara efektif dan banyak dialami oleh tenaga keperawatan. Kondisi ini ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, serta penurunan pencapaian pribadi. Perawat termasuk kelompok yang rentan terhadap burnout karena tingginya tuntutan kerja, tanggung jawab besar terhadap keselamatan pasien, serta intensitas interaksi emosional yang tinggi dalam pelayanan. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor-faktor demografi dan tingkat burnout pada tenaga keperawatan berdasarkan penelitian terkini. Pencarian artikel dilakukan melalui basis data PubMed dan Google Scholar dengan rentang publikasi tahun 2021–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa usia dan masa kerja merupakan faktor yang paling konsisten berhubungan dengan tingkat burnout, di mana perawat berusia muda dengan masa kerja singkat memiliki risiko yang lebih tinggi. Sementara itu, tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan status perkawinan berperan dalam menurunkan risiko burnout melalui peningkatan rasa percaya diri dan dukungan sosial yang memadai. Pengaruh jenis kelamin masih menunjukkan hasil yang bervariasi antar studi. Kesimpulannya, faktor demografi memiliki peranan penting dan perlu dipertimbangkan dalam perumusan kebijakan serta intervensi yang bertujuan untuk mencegah burnout pada tenaga keperawatan.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> burnout, demografi, tenaga keperawatan, usia, masa kerja</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>Burnout is a psychological syndrome that arises from chronic occupational stress that is not effectively managed and is widely experienced among nursing professionals. It is characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and a reduced sense of personal accomplishment. Nurses are particularly vulnerable to burnout due to heavy workload demands, responsibility for patient safety, and the emotional intensity inherent in patient care. This literature review aims to identify the association between demographic factors and burnout levels among nursing staff based on recent empirical evidence. Articles were retrieved from PubMed and Google Scholar databases, limited to publications from 2021 to 2025. The findings indicate that age and length of employment are the most consistent factors associated with burnout, where younger nurses and those with shorter work experience exhibit higher risk. Meanwhile, higher educational attainment and being married appear to reduce the risk of burnout by enhancing self-confidence and social support. The influence of gender remains inconsistent across studies. In conclusion, demographic characteristics play an essential role and should be considered in developing policies and interventions aimed at preventing burnout among nursing professionals.</p> <p><strong>Keywords</strong>: burnout, demographic factors, nursing staff, age, length of employment</p>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3684Indonesian Marine Natural Product for Anticancer2025-12-20T11:16:47+00:00Faizah Zahrah Sidikfaizazahras@gmail.comSyazili Mustofasyazili.mustofa@fk.unila.ac.idEvi Kurniawatyevikurniawatydr@gmail.comMiftahur Rohmanmiftahurrohman@fk.unila.ac.id<p>The development of anticancer drugs derived from marine products in Indonesia offers significant promise due to the country’s rich marine biodiversity. Marine organisms such as algae, sponges, and marine microorganisms are a valuable source of bioactive compounds with potential anticancer properties. These compounds, including polysaccharides, alkaloids, and peptides, exhibit the ability to inhibit cancer cell proliferation, induce apoptosis, and overcome drug resistance, presenting innovative solutions for cancer treatment. Key marine species being investigated include <em>Eucheuma sp.</em>, <em>Ulva lactuca</em>, <em>Gracilaria verrucosa</em>, <em>Sargassum polycystum</em>, and <em>Ecteinascidia turbinata</em>, all of which show potent cytotoxicity and diverse mechanisms of action. However, challenges such as sustainable harvesting, compound isolation, and clinical testing must be addressed for these marine products to be successfully developed into therapeutic agents. This paper explores the current state of research on Indonesian marine products as anticancer agents, highlighting their bioactive properties and the opportunities and challenges in advancing these products toward clinical application.</p> <p><strong>Keywords: </strong>anticancer, extract, Indonesia, marine products, secondary metabolite.</p>2025-12-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3694The Risk Factors of Stress in Female Students on the Menstrual Cycles: A Literature Review2025-12-20T11:19:51+00:00gustina wulan sarigustinawulansari907@gmail.comefriyan imantikarayan.rianto@gmail.comterza aflika happyterza.aflikahappy@gmail.comrodianirodianimoekroni@gmail.com<p>Menstruasi adalah saat lapisan rahim mengelupas dan mengeluarkan darah akibat tidak ada pembuahan. Stres adalah kondisi di mana tubuh dan pikiran merasa tertekan karena tuntutan dan perubahan dalam hidup. Menurut informasi World Health Organization (WHO) tahun 2020, sejumlah 45% wanita mengalami gangguan siklus menstruasi, dan di Indonesia, sekitar 13,7% perempuan mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi dalam kurun waktu satu tahun dengan 5,1% disebabkan gangguan psikis dan beban pikiran. Stres bisa diartikan juga sebagai tekanan atau ketegangan yang mengganggu, biasanya berasal dari situasi di luar diri seseorang. Stres dapat memicu sistem yang mengatur hormon dalam tubuh kita, yaitu sumbu korteks hipotalamus-hipofisis-adrenal, yang menyebabkan tubuh memproduksi kortisol. Kortisol dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon-hormon lain, termasuk hormon reproduksi, yang berdampak pada siklus menstruasi. Tinjauan pustaka ini ditujukan untuk menganalisis faktor risiko stres dan siklus menstruasi, dengan merujuk pada literatur yang dipublikasikan antara tahun 2022-2025 di jurnal-jurnal baik nasional maupun internasional. Analisis terhadap 10 literatur menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang kuat antara stres dengan siklus menstruasi pada remaja putri.</p>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3738Review of Phytochemical Compounds and Antibacterial Activity of Bitter Melon (Momordica charantia L.) Leaves Against Staphylococcus aureus Using the Disk Diffusion Method: A Narrative Review2025-12-20T11:02:24+00:00Nurrahmi Putri Zaidanirahmiputrizaidani@gmail.com<p><strong>ABSTRAK: </strong>Tanaman Pare (<em>Momordica charantia </em>L.) ialah bagian dari famili Cucurbitaceae yang kaya akan senyawa metabolit sekunder dan sering dimanfaatkan di berbagai wilayah sebagai obat sakit gigi, diare, dan bisul, serta infeksi akibat virus dan bakteri. Salah satu bagian tanaman yang banyak dimanfaatkan adalah bagian daunnya. Artikel ini disusun dengan tujuan untuk mengumpulkan berbagai studi dan penelitian mengenai senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri dari daun pare (<em>Momordica charantia</em> L.) melalui pendekatan <em>narrative review</em>. Sumber literatur yang digunakan pada penelitian ini diperoleh melalui pencarian berdasarkan judul, abstrak, dan kata kunci serta Boolean Operator (AND,OR), yaitu “momordica charantia leaves AND antibacterial activity” dan “momordica charantia leaves AND phytochemical OR secondary metabolites” pada berbagai sumber basis data seperti ScienceDirect, Google Scholar, dan Pubmed. Kriteria inklusi yang digunakan pada artikel ini adalah literatur yang disajikan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, dapat diakses secara free full text, dipublikasikan pada rentang periode tahun 2015 hingga 2025, membahas ekstrak daun pare dan membahas uji antibakteri daun pare menggunakan metode difusi cakram, serta artikel yang menggunakan desain penelitian eksperimental. Berdasarkan hasil penelusuran, didapatkan 11 artikel literatur yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian literatur ini menunjukkan bahwa ekstrak daun pare memiliki positif mengandung metabolit sekunder dan memiliki kemampuan untuk menekan pertumbuhan bakteri gram positif, yaitu <em>Staphylococcus aureus.</em></p> <p><em><strong>ABSTRACT: </strong>The bitter melon plant (Momordica charantia L.) is part of the Cucurbitaceae family, rich in secondary metabolites and is often used in various regions as a remedy for toothache, diarrhea, boils, and viral and bacterial infections. One of the most frequently used parts of the plant is its leaves. This article was compiled with the aim of collecting various studies and research on secondary metabolites and the antibacterial activity of bitter melon leaves (Momordica charantia L.) through a narrative review approach. The literature sources used in this study were obtained through searches based on titles, abstracts, keywords, and Boolean operators (AND, OR), namely “momordica charantia leaves AND antibacterial activity” and “momordica charantia leaves AND phytochemical OR secondary metabolites” in various database sources such as ScienceDirect, Google Scholar, and Pubmed. The inclusion criteria used in this article were literature presented in Indonesian or English, accessible as free full text, published between 2015 and 2025, discussing bitter melon leaf extract and discussing the antibacterial test of bitter melon leaves using the disk diffusion method, as well as articles using experimental research designs. Based on the study findings, 11 literature articles were found that met the inclusion criteria. The results of this literature review indicate that bitter melon leaf extract contains secondary metabolites and has the ability to reduce the growth of gram positive bacteria, namely Staphylococcus aureus.</em></p> <p> </p>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3746Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Kepuasan Pasien Rawat Jalan2025-12-20T11:22:27+00:00Ilma Nafiailma1nafia@gmail.com<p>Kepuasan pasien menjadi indikator penting dalam menilai mutu layanan kesehatan, khususnya pada layanan rawat jalan yang melibatkan interaksi cepat dan kompleks. Faktor eksternal seperti waktu tunggu, kebersihan fasilitas, kenyamanan ruang tunggu, serta komunikasi non-medis dengan staf telah diidentifikasi sebagai penentu signifikan terhadap tingkat kepuasan pasien. Kajian literatur ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor-faktor eksternal dan kepuasan pasien rawat jalan berdasarkan penelitian primer periode 2020–2025. Artikel dikumpulkan dari basis data Scopus, PubMed, dan jurnal terakreditasi SINTA dengan kriteria inklusi berupa penelitian primer, desain kuantitatif atau kualitatif, sampel pasien rawat jalan, dan akses full-text. Sebanyak 20 artikel dikaji, dengan 16 artikel yang dianalisis lebih lanjut karena secara spesifik menggunakan sampel pasien rawat jalan. Hasil menunjukkan bahwa waktu tunggu, kebersihan lingkungan, kenyamanan ruang tunggu, dan kualitas interaksi non-medis menjadi faktor eksternal paling dominan yang memengaruhi kepuasan pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan mutu layanan non-medis perlu menjadi prioritas dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3770Dampak Waktu Tanggap Pelayanan Terhadap Persepsi Mutu dan Kepuasan Pasien di Unit Gawat Darurat2025-12-20T14:21:49+00:00Shaeny Putri Amaliashaenyamalia@gmail.com<p style="font-weight: 400;">Waktu tanggap pelayanan merupakan salah satu indikator utama mutu layanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), karena berkaitan langsung dengan keselamatan, kenyamanan, dan pengalaman pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak waktu tanggap terhadap persepsi mutu dan kepuasan pasien dengan mensintesis temuan dari 20 penelitian nasional dan internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa waktu tanggap yang cepat berkontribusi signifikan terhadap peningkatan persepsi positif terhadap kualitas layanan, memperkuat kepercayaan pasien, serta meningkatkan tingkat kepuasan dan loyalitas. Sebaliknya, waktu tanggap yang lama terbukti menurunkan persepsi mutu, meningkatkan ketidakpuasan, dan memperburuk pengalaman pelayanan secara keseluruhan. Temuan ini menegaskan bahwa ketepatan waktu merupakan faktor krusial dalam penyelenggaraan layanan IGD, dan peningkatan manajemen alur pasien serta koordinasi tenaga medis sangat diperlukan untuk menghasilkan mutu layanan dan kepuasan pasien yang optimal.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> waktu tanggap, waktu tunggu, kualitas pelayanan, kepuasan pasien, IGD</span></p>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3792The Relationship Between Antihypertensives Use And Uncontrolled Blood Pressure In Chronic Kidney Disease With Routine Hemodialysis2025-12-31T16:41:27+00:00Yulianasari Pulunganyulianasari16@gmail.comAgung Endro Nugrohonugroho_ae@ugm.ac.idI Dewa Putu Pramantaradewapramantara2@gmail.com<p>Hypertension in end-stage chronic kidney disease (CKD) patients undergoing HD is difficult to control. The aim of the study was to determine the relationship between the number of antihypertensive medications taken and the use of dialyzed antihypertensive medications on uncontrolled blood pressure in CKD patients on hemodialysis. Consecutive sampling was employed in a retrospective cohort study. Data collection for the study took place in July 2023 at Temanggung Regional Hospital. The inclusion criteria in this study were CKD patients who undergoing routine hemodialysis twice a week, aged ≥ 18 years, and without or with comorbidities. Medical records and interviews with research participants were used to gather data. Forty-eight patients with clinical outcomes of uncontrolled predialysis blood pressure and four patients with regulated predialysis blood pressure made up the 52 research subjects. The number of antihypertensive drugs used is significantly associated with uncontrolled predialysis blood pressure in CKD patients with hemodialysis using antihypertensives (p-value 0,033). The use of dialyzed antihypertensive drugs is not associated with uncontrolled predialysis blood pressure in CKD patients on hemodialysis using antihypertensives (p-value 0,115).</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3675Pemanfaatan Wearable Device dalam Pemantauan Kardiorespirasi pada Populasi Klinis2025-12-20T11:10:58+00:00Fitri Aulia Syahranifitriauliasyhrn27@gmail.comKhairun Nisa Berawinisaberawi0226@gmail.comSuryadi Islamisuryadi.islami@fk.unila.ac.idSyazili Mustofasyazili.mustofa@fk.unila.ac.id<p>Pemantauan kardiorespirasi merupakan aspek penting dalam manajemen kesehatan berbagai populasi klinis. Perkembangan teknologi <em>wearable device</em> menghadirkan peluang untuk melakukan pemantauan fisiologis secara <em>real-time</em>, non-invasif, dan berkelanjutan di luar lingkungan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau pemanfaatan <em>wearable device</em> dalam pemantauan kardiorespirasi pada populasi klinis serta menganalisis tantangan, peluang, dan arah pengembangannya di masa depan. Kajian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur terhadap enam artikel penelitian yang relevan, mencakup berbagai populasi klinis seperti pasien dengan disabilitas fisik, pediatrik, neurologis, onkologi, dan psikiatri. Analisis dilakukan menggunakan kerangka PICOT untuk mengidentifikasi populasi, intervensi, pembanding, hasil, dan jenis penelitian. <em>Wearable device </em>terbukti efektif dalam memantau fungsi kardiorespirasi dan mendukung rehabilitasi serta deteksi dini gangguan fisiologis. Teknologi ini meningkatkan kualitas hidup pasien dan memungkinkan pemantauan jarak jauh yang personal. Namun, tantangan seperti akurasi sensor, privasi data, dan integrasi sistem masih perlu diselesaikan. <em>Wearable device</em> memiliki potensi besar untuk diintegrasikan dalam praktik medis modern sebagai alat pemantauan kardiorespirasi yang adaptif, berbasis bukti, dan berpusat pada pasien.</p>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3679Peran Antioksidan Alami dalam Menghambat Stres Oksidatif sebagai Upaya Pencegahan Komplikasi Diabetes Melitus Tipe 2: Narrative Review2025-12-20T11:15:34+00:00Ni Nyoman Indri Angelita Angelitaangelitaangel036@gmail.com<p><strong>ABSTRAK: </strong>Diabetes Melitus Tipe 2 (DM T2) merupakan gangguan metabolisme persisten yang dibedakan oleh resistensi insulin dan penurunan sekresi insulin, dan secara menyeluruh terkait dengan stres oksidatif dan peradangan kronis. Hiperglikemia persisten meningkatkan generasi <em>Spesies Oksigen Reaktif</em> (ROS), yang memicu gangguan sel β pankreas, disfungsi endotel, dan komplikasi kronis termasuk nefropati, neuropati, dan retinopati diabetik. Karya ilmiah bertujuan untuk menjelaskan peran antioksidan alami dalam mengurangi stres oksidatif sebagai strategi untuk mencegah komplikasi terkait dengan DM T2. Metodologi yang digunakan dalam literatur ini terdiri dari tinjauan naratif yang didasarkan pada pencarian artikel yang dipublikasi dari 2016 hingga 2025 melalui PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Delapan artikel penelitian memenuhi kriteria inklusi, mencakup studi uji klinis dan eksperimental yang mengidentifikasi senyawa antioksidan alami seperti flavonoid, polifenol, resveratrol, kurkumin, dan triterpenoid tangkai. Temuan menunjukkan bahwa antioksidan alami dapat meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen (SOD, GSH, HO-1, SIRT1), mengurangi biomarker stres oksidatif (MDA, ROS), dan menghambat jalur pensinyalan inflamasi (NF-κB, TNF-α, IL-6).Kurkumin dan turunannya ditunjukkan dapat memberikan perlindungan pada jaringan otak dan jantung melalui aktivasi jalur pensinyalan Notch1/Hes1, sementara resveratrol ditemukan mampu meningkatkan ekspresi SIRT1 dan mengurangi peradangan sistemik. Formulasi nanopartikel kurkumin dan gagen juga meningkatkan bioavailabilitas dan kemanjuran terapeutiknya. Kesimpulannya, antioksidan alami menunjukkan potensi yang signifikan sebagai terapi tambahan dalam melemahkan stres oksidatif dan mencegah komplikasi kronis pada DM T2. Namun, penelitian klinis lebih lanjut sangat penting untuk memastikan kemanjuran dan keamanan jangka panjangnya.</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a persistent metabolic disorder characterized by insulin resistance and decreased insulin secretion, and is broadly associated with oxidative stress and chronic inflammation. Persistent hyperglycemia increases the generation of Reactive Oxygen Species (ROS), which triggers pancreatic β-cell impairment, endothelial dysfunction, and chronic complications including diabetic nephropathy, neuropathy, and retinopathy.This scientific work aims to elucidate the role of natural antioxidants in reducing oxidative stress as a strategy to prevent complications associated with T2DM. The methodology employed in this literature review consists of a narrative review based on articles published between 2016 and 2025 retrieved from PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. Eight research articles met the inclusion criteria, encompassing clinical and experimental studies that identified natural antioxidant compounds such as flavonoids, polyphenols, resveratrol, curcumin, and triterpenoids derived from plant stems.Findings indicate that natural antioxidants can enhance the activity of endogenous antioxidant enzymes (SOD, GSH, HO-1, SIRT1), reduce oxidative stress biomarkers (MDA, ROS), and inhibit inflammatory signaling pathways (NF-κB, TNF-α, IL-6). Curcumin and its derivatives have been shown to provide neuroprotective and cardioprotective effects through activation of the Notch1/Hes1 signaling pathway, whereas resveratrol was found to upregulate SIRT1 expression and attenuate systemic inflammation. Moreover, nanoparticle formulations of curcumin and gagen improve its bioavailability and therapeutic efficacy.In conclusion, natural antioxidants demonstrate significant potential as adjunctive therapy in attenuating oxidative stress and preventing chronic complications in T2DM. However, further clinical studies are essential to confirm their long-term efficacy and safety.</p> <p> </p> <p> </p>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3686Probiotic Intervention for Oxidative Stress in Undernutrition 2025-12-20T11:17:32+00:00GASELA ZALIANTI BALQISgaselazalianti@gmail.comKHAIRUN NISA BERAWIkhairun.nisa@fk.unila.ac.idMAYA GANDA RATNAmaya.ganda@fk.unila.ac.idSUTYARSOsutyarso@yahoo.co.id<p>Undernutrition is a critical global health challenge, creating impaired physiological function and heightened oxidative stress. This elevated oxidative stress state is driven by deficient antioxidant intake and increased production of reactive oxygen species (ROS), which can exacerbate tissue damage and nutritional status. Additionally, the gut microbiota has been identified as a crucial regulator of systemic metabolic and inflammatory health. Probiotics, as modulators of this microbiome, have emerged as a potential therapy. This narrative review aims to summarize and discuss the current evidence linking probiotic intervention to the mitigation of oxidative stress in conditions of undernutrition. The exploration of proposed biological mechanisms includes the enhancement of endogenous antioxidant enzymes (like SOD and GPx), the reduction of lipid peroxidation markers (such as MDA), and the strengthening of the intestinal barrier. The existing literature indicates the potential of specific strains, particularly <em>Lactobacillus</em> and <em>Bifidobacterium</em>, in reducing oxidative damage through the modulation of inflammatory pathways and the production of antioxidant metabolites. In conclusion, probiotics are feasible as a low-cost adjuvant (supportive) therapy for managing the complex pathophysiology of undernutrition, although the establishment of standard protocols still requires further clinical validation.</p>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3736Eksplorasi Fitokimia Secara In Vitro: Potensi Tanaman Penghambat Xantin Oksidase Sebagai Terapi Hiperurisemia2025-12-20T11:06:52+00:00Ressalia Shoumadani Warmanressaaliaa@gmail.comMuhammad Iqbalmuhammad.iqbal5101@fk.unila.ac.idRamadhan Triyandiramadhan.triyandi0101@fk.unila.ac.idIhsanti Dwi Rahayuihsanti.rahayu@fk.unila.ac.id<p>Hiperurisemia adalah gangguan metabolisme akibat tingginya kadar asam urat dalam darah, dengan prevalensi 15% di Indonesia dan 34,2% secara global. Diperkirakan, kematian akibat gout meningkat 55% pada 2060. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh peningkatan aktivitas xantin oksidoreduktase (XOR) di hati atau gangguan ekskresi ginjal. Penghambatan XOR terbukti efektif menurunkan kadar asam urat. Indonesia memiliki lebih dari 9.609 spesies tanaman obat, beberapa di antaranya berpotensi sebagai antihiperurisemia melalui mekanisme penghambatan XOR. Allopurinol, obat standar untuk kondisi ini, dapat menimbulkan efek samping serius bila digunakan berlebihan. Oleh karena itu, terapi herbal menjadi alternatif yang menjanjikan. Review ini bertujuan membahas tanaman yang secara empiris mampu menurunkan asam urat dengan menghambat xantin oksidase. Pencarian artikel publikasi dilakukan di beberapa mesin pencari, seperti ResearchGate, ScienceDirect, Google Scholar menggunakan kata kunci "Antioksidan", “Asam Urat” "Hiperurisemia", "In Vitro", "Metabolit Sekunder" dan "Tanaman Obat" berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, yang menghasilkan 15 artikel. Pencarian literatur dibatasi pada artikel yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir, dari 2015 hingga 2025. Hasil review menunjukkan bahwa tanaman tanaman tersebut memiliki potensi sebagai antihiperurisemia dengan mekanisme penghambatan enzim xantin oksidase.<br>Kata Kunci: Antioksidan, Asam Urat, Hiperurisemia, In Vitro, Metabolit Sekunder, Tanaman Obat, dan Xantin Oksidase</p>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3745Literatur Review Senyawa Bioaktif dalam Ekstrak Mentimun (Cucumis sativus L.) dan Potensinya sebagai Alternatif Antibiotik Alami2025-12-20T11:20:23+00:00Juliansamdiken9@gmail.comEvi Kurniawatyevikurniawatydr@gmail.comShinta Nareswarishinta.nareswari@fk.unila.ac.idSutyarsosutyarso@fmipa.unila.ac.id<p>Kasus resistensi bakteri terhadap antibiotik sintetis semakin meningkat dan menjadi isu global, yang mendorong upaya mencari sumber antibakteri alami dari bahan baku alam. Salah satu tanaman yang memiliki potensi adalah mentimun <em>(Cucumis sativus L.), </em>yang diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan senyawa fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan senyawa bioaktif dalam ekstrak mentimun serta mengevaluasi potensi aktivitas antibakterinya sebagai alternatif antibiotik alami. Untuk menunjang penelitian ini, dilakukan tinjauan pustaka dengan metode literature review menggunakan sumber-sumber ilmiah nasional dan internasional dari basis data Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed selama periode 2015 hingga 2025. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan metanol dari mentimun memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa bakteri patogen, seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Klebsiella pneumoniae. Mekanisme aktivitas antibakteri kemungkinan terjadi melalui kerusakan membran sel, penghambatan sintesis protein, serta gangguan pada permeabilitas dinding sel bakteri. Senyawa flavonoid dan saponin berperan penting dalam efek antibakteri tersebut. Berdasarkan hasil tinjauan, ekstrak mentimun memiliki potensi yang signifikan sebagai sumber antibiotik alami yang aman, terjangkau, dan ramah lingkungan, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut dalam penelitian lanjutan serta formulasi farmasi.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3756The Relationship Between Healthy Behavior and Longevity Among Older Adults in Betiting Village, Gresik Regency2025-12-20T11:23:50+00:00Adam Moelyantoadamhaidars57@gmail.com<p>The increasing proportion of older adults in Indonesia highlights the importance of maintaining health and quality of life in later years. One of the key determinants of longevity is the adoption of healthy behaviors in daily life. Healthy behavior includes regular physical activity, balanced nutrition, adequate sleep, and adherence to clean and healthy lifestyle practices. This study aims to analyze the relationship between healthy behavior and longevity among older adults in Betiting Village, Gresik Regency. This observational analytic study employed a cross-sectional design. A total of 74 older adults were selected through stratified random sampling. Healthy behavior was assessed using the Lifestyle Medicine Health Behavior Scale (LMHB), while longevity was measured based on the respondents’ chronological age. Data were analyzed using Spearman’s correlation test. The results showed a significant positive relationship between healthy behavior and longevity (r = 0.498; p < 0.001). These findings indicate that older adults who engage in healthier behaviors tend to achieve longer lifespans than those with poorer health habits. This study underscores the importance of promoting healthy behavior as a major determinant of longevity in older populations. Support from families and communities is essential to encourage older adults to maintain healthy routines and achieve a better quality of life.</p>2025-12-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicinehttps://juke.kedokteran.unila.ac.id.103-3-46-85.cpanel.site/index.php/agro/article/view/3773Pengaruh Ketepatan Waktu Visite Dokter terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Peserta BPJS Kesehatan: Sebuah Tinjauan Pustaka2025-12-23T16:12:10+00:00Cindy Situmorangcindymiranda2606@gmail.com<div> <h3><em><span lang="IN">Patient satisfaction is a crucial indicator of service quality within Indonesia's National Health Insurance system. For inpatients in the BPJS Kesehatan Class 3 category, a vulnerable population segment, the timeliness of doctor's rounds is a significant factor influencing their experience; thus, this article aims to critically analyze its effect. Employing a narrative literature review methodology, empirical evidence from relevant studies was synthesized and critically analyzed to construct a comprehensive conceptual model. The analysis reveals a positive and statistically significant relationship between the timeliness of doctor's rounds and patient satisfaction. Furthermore, timeliness functions as a "gateway variable," a prerequisite for effective interpersonal communication, and as an "equity signal" for BPJS Class 3 patients, for whom delays risk being interpreted as undignified treatment that can erode trust. In conclusion, improving the timeliness of doctor's rounds is not merely an operational efficiency enhancement but a fundamental strategic intervention. It is essential for improving interpersonal interactions, upholding the principle of fair and dignified treatment, and strengthening patient trust in the JKN program.</span></em></h3> </div>2025-12-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine